24 tahun lalu, tepat pada tanggal ini. sebuah buku
terbuka, tepat pada halaman pertama. tanpa isi, tanpa tulisan, bahkan tanpa
coretan. kertas putih terbentang, siap untuk menerima hitamnya tinta,
beningnya air mata, merahnya darah dan kucuran keringat.
tepat pada
tanggal ini, 24 tahun kemudian. buku itu berisi hitamnya tinta, beningnya air
mata merahnya darah dan cucuran keringat. pun begitu, masih banyak halaman
kosong. masih banyak bab yang belum terisi. masih banyak yang harus
diguratkan pada lembaran berikut.
hari ini, syukur terus bertambah karena
buku tersebut belum habis…
Bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik
apapun jalannya, apapun hasilnya. Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita
walaupun mungkin itu bukan yang terbaik menurut kita. Bahwa Tuhan itu adil
dan adil bukan berarti sama rata sama rasa
walaupun kadang memang begitu adanya.
Mungkin semestinya kita mengerti,
Jalan terjal dalam hidup memiliki arti
walau kadang tidak kita sadari Bahagia dan sedih bergantung pada persepsi
tak mesti memandang ke atas atau ke bawah
semua tergantung kondisi Kenikmatan hidup juga merupakan ujian
tak boleh kita lupa bahwa ujian datang dalam berbagai bentuk
Ikhlas merupakan bentuk kekuatan
Pasrah merupakan wujud ketegaran
Setelah sekian lama ninggalin Ranah Antah Berantah, tanggal 20 Mei kmaren gw balik lagi ke sini. Ada rasa lega, khawatir dan kehilangan. Lega karena akhirnya gw punya kegiatan, selama liburan kemaren gak banyak yg bisa gw kerjain selain nyuci, nyapu, dan beresin rumah. Adek gw yang nyuci mobil :D. Khawatir karena membayangkan tumpukan kerjaan yang berserakan di seputar ruang kerja gw. Kehilangan karena bakal butuh kurang lebih 5 bulan lagi buat ngumpul sama keluarga.
Gw pulang.
Menikmati lagi aroma pagi dan sore hari di teras.
Menghamba pada segala pekerjaan rumah tangga.
Olahraga yang sehat dan bermanfaat.
Gw pulang..
Iya, gw tau waktu terus berjalan. Dan hidup gak akan nunggu kalo gw berhenti.
Walo itu untuk sekedar mengambil nafas atau mengusap peluh.
Semua harus tetap berjalan.
Gw bukan robot yang bisa cuek kerja walo tangannya lepas, teriak gw dalam hati.
Karena gw gak tau harus marah sama siapa.
Dan gw tau bukan cuma gw korban situasi ini.
Detik berlalu, minggu berlari dan tahun melampaui.
Karena hal ini tak terhindarkan, perlulah gw nyari cara lain.
Belajar menyikapi keadaan.
Penyangkalan, pembelajaran dan penerimaan.
Ikhlas adalah wujud ilmu dan sikap yang agung.
Sekarang gw bisa bernafas lebih lega. Karena gw paham, waktu berlari.
Dan manusia bisa mengambil nafas sambil berjalan.
Atau berjalan sambil mengusap keringat. Namun takkan mampu berhenti.
Jika berhenti, selamat datang, Alam Baka..!!
Saatnya gw mulai lari lagi. Mengejar Sang Waktu yang tanpa lelah.
Paling nggak, gw pasti bisa mensejajarinya.
Kembali menatap lintasan, memandang check-point berikutnya dari hidup gw.
Sambil tersenyum…
Gw udah kelar ujian masuk D4 dan seleksi Diklat Dasar Pengumpulan Data dan Informasi (selanjutnya disebut Pengepul DatIn). Alhamdulillah, semua ujian yang gw ikutin berjalan lancar tanpa hambatan. Karena seleksi Pengepul DatIn mensyaratkan koneksi intranet DJP, gw ngerjain soal-soal itu di Kantor Pusat (DJP, bukan PT. Angin Ribut), tepatnya di ruangan Wawan yang terletak di lante 2 Gedung B.
Jantung gw berdegup lebih kencang dari biasanya. Soalnya perjalanan hidup gw akan ditentukan besok pagi. Pertempuran selama 3 jam dan 30 menit ada di depan mata. Pedang dan perisai udah ada, tinggal gimana gw memanfaatkan semua yang ada. Bilah pedang bernama pengetahuan dan perisai bernama keteguhan mental.